Showing posts with label Maginificent Memoirs. Show all posts
Showing posts with label Maginificent Memoirs. Show all posts

Monday, January 24, 2011

A Moment We Shared

I could stay awake just to hear your breathing
Watch your smile while you were sleeping

Dentingan nada lagu Aerosmith itu mengalun di benakku. Baru kali ini aku mampu memahami maknanya. Memandangmu yang terbaring nyenyak di sampingku, mampu mengukir senyuman di wajahku. Tak lama, ku memelukmu dan terlelap.

Terbangun mendapati bibirmu menyentuh dahiku, kubuka mata dan melihatmu menatapku. Sempat terhenyak, kulemparkan senyum padamu. Kau pun tersenyum. Indah. Aku tahu yang kurasa dan aku pun mengerti rasa yang kau punya. Namun sayang, kantuk saat itu membuatku kembali menutup mata.

Campuran keheningan malam, dan pikiranku yang sudah tidak menyatu dengan raga, aku menyadari ini adalah yang pertama dan ini pula lah yang terakhir. Tapi aku tetap tersenyum. Tersenyum untuk momen ini. Momen yang pernah kita jalani

Entah aku bermimpi atau aku benar-benar mendengarnya, Michael Buble samar-samar bernyanyi..

You were my one more chance
I never thought I'd find
you were the one romance
I've always known in my mind
No one will ever touch me more
and I only hope that in return
I might have saved the best of me for you


Aku tertidur dalam kedamaian jiwa, menyambut esok dengan senyuman.

And we'll have no ending if we can hold on
and I think I've come this far because of you
could be no other love but ours will do



*inspired by a friend who just had a wonderful journey
Flap more...

Thursday, June 17, 2010

In 4 Years

2006.

"Kamu yang kemarin itu kan?"
"Iya. Nama kamu siapa?"
"Hazel."

2007.

"Temani aku jalan, mau?"
"Gak ah, Zel. Mau pergi, ada acara"

2008.

"Kok belum tidur?"
"Sebentar lagi, tanggung"
"Aku tidur dulu ya"

2009.
"Kamu pergi berapa lama, Zel?"
"6 bulan. Kenapa?"
"Tak apa."
"Kamu bakal kangen ya?"
"Iya"

2010.

"Kamu berubah, tambah gendut"
"Hahaha...."
"Jangan pergi lagi, or take me with you."
Flap more...

Tuesday, May 4, 2010

Evening Breeze

Angin dingin malam itu menusuk ragaku. Kusandarkan tubuhku pada kursi kayu sambil kulepas pandanganku pada lampu-lampu kota di kejauhan. Bandung dan warganya seakan terdiam, terhanyut sepi dalam kungkungan gelap malam.

Lilin kecil di depanku berpijar, menari, mencoba memperindah suasana temaram saat itu, namun panasnya tak mampu meraihku. Kedua tangan yang terlipat tak bisa juga menghangatkanku. Bahkan segelas coklat panas yang kupesan tertelan oleh dinginnya udara malam.

Aku berpaling, memandangmu. Tampak kau juga bergumul dengan sang dingin. Ketika pandangan kita bertemu, kau berbisik 'Ya?'

Aku hendak berucap mengungkap yang kurasa, saat kurasakan bibirku bergeming, kaku. Aku hanya tersenyum berharap kau mengerti, dinginnya malam itu sirna, saat cahaya matamu melelehkan kebekuan hati ini.
Flap more...

Tuesday, December 22, 2009

You and Your Rain

Aku bersandar pada kursi keras kantorku. Kudengar lagu demi lagu mengalir lirih di earphoneku, sambil sesekali kutatap rintik hujan di luar sana. Jalanan basah yang menghampiri pandanganku, menerawangkanku kembali ke masa lalu.

'Aku suka hujan di pagi hari,' katamu tersenyum sambil menunjuk ke luar mobil.
Aku mengangguk, membalas senyummu. Jalanan kala itu tak begitu ramai, jadi kualihkan pandanganku ke atas. Langit merenda awan, matahari mengintip di tengah tetesan hujan. Sempurna, pikirku, sambil berharap hujan 'kan reda ketika kami sampai di gereja.

Aku memandangmu, dan kamu masih tersenyum, begitu menikmati cuaca saat itu. Layaknya seorang bocah dan permen lolipop-nya, demikian juga kamu.

Setahun yang lalu. Waktu bergulir begitu cepat. Tiga hari lagi Natal dan aku belum mendengar kabar darimu. Kuseruput coklat panasku sambil berharap, aku bisa memandang senyummu sekali lagi saat kau bersenang-senang dengan hujanmu.
Flap more...

Thursday, September 17, 2009

Morning Alarm

Aku tengah lelap meringkuk di ranjangku ketika jam di kamar berdentang 2 kali. Aku terbangun dan melihatmu mengendap, sedikit berjingkat berusaha tak membangunkanku.

"Hi!" sapaku. Kamu terkaget dan tersenyum padaku, "Hey, sorry, waking you up. Go back to sleep!" Aku berdeham dan kembali tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, saat aku merasakan kehangatan tanganmu memeluk pinggangku.

"Glad to see you back," kataku setengah sadar.
"I miss you" kau berbisik.
"Are you serious?" tanyaku tak percaya.
"Serious" nafasmu menghangatkan punggungku.
"I miss you too..."

"TUT TUT TUT TUT TUT"
Aku terbangun dari tidurku. Kumatikan alarm handphoneku dan ku berbalik. Tak kudapati kau di sana. 'Alarm sialan,' umpatku dalam hati.
Flap more...

Friday, August 21, 2009

On The Pergola

Lambaian spanduk iklan yang tertiup angin kadang mengenai kepalaku. Kunikmati cahaya mentari pagi yang menyentuh kulitku. Di beranda rumahku, aku duduk memandang deretan bukit melintang membentuk horison.

Dingin, kugenggam segelas teh hangat dan sesekali kuhirup uapnya. Aku sungguh menikmati alam ini. Kudengar derak pintu di belakangku. Aku menoleh dan kulihat senyum kecil di wajahmu.

Aku kembali mengarahkan pandangan di kejauhan, bangkit dari kursi dan mulai berceloteh sambil menunjukkan hamparan hijau di bawah sana padamu. Kau mendekat dan melingkarkan kedua tanganmu di pinggangku. Aku terdiam, merasakan sensasi hangatmu. Kupejamkan mataku, mencoba menyatukan semua rasa yang diterima indraku.

Tak sebentar ku menikmati indahnya pagi ini. Saat kubuka kembali mataku, gelas yang tadi kupegang telah menjadi dingin. Kau sudah tak ada di sana. Barisan bukit hilang entah ke mana. Yang tertinggal hanyalah aku dan spanduk iklan yang tetap menerpa wajahku sesekali.
Flap more...

Monday, June 1, 2009

Healing Madness

Aku duduk diam, bergeming, sambil mengigit bibir. Sesekali kusambar setumpuk kertas di meja di depanku, kugunakan mengusir hawa panas yang siang itu begitu menyengat. Tatapan mataku tetap tertuju pada sebaris tulisan di layar komputerku. Aku marah. Kesal.

Telepon berdering, kuambil nafas dan kuhembus perlahan. Kuangkat. Hampir 1 menit suara di sana mengoceh tiada henti. Aku membalas 5 patah kata. Suara di sana menyahut kembali dengan nada tak bersahabat. Telingaku memerah karenanya. Hati ini panas, ingin berteriak.

Kujalankan pemutar lagu di komputerku setelahnya. Suara Bunga Citra Lestari mengalun mengiringi gerahnya suasana.

Kuingin marah, melampiaskan
Tapi ku hanyalah sendiri di sini


Hanya itu lirik yang terdengar, selebihnya aku tak peduli lagi. Kulangkahkan kaki, keluar dari bangunan beton. Panas mentari begitu menyengat. Biarlah, pikirku. Lebih baik mengecap teriknya siang, daripada harus menahan marah yang telah menggebu.

Tiba-tiba aku mengingatmu. Dan saat kudengar suaramu di ujung sana, kepalaku mendingin. Hanya kesejukan yang kurasakan. Melepas kerinduan yang mungkin telah mengerogoti kesabaranku.
Flap more...

Sunday, March 1, 2009

Even dream can be so...

Langit biru di atas sana menjadi payung kita, berjalan menyusuri setapak yang entah kapan akan habis ditelan horison pagi. Tanganmu terpatri erat dalam genggamanku. Aku tak ingat jelas suasana alam kala itu.


Samar teringat dalam benakku bongkahan batu berlumut, hitam kehijauan termakan usia. Kaki kaki kita menyusurinya, mencari celah kasar menghindarkan diri dari sentuhan lumut basah dan licin. Kelemahanmu, berjalan sempoyongan, seakan keseimbangan bukan bagian dari dirimu. Jantungku berdegup keras saat kau terpeleset, hampir menyentuh lapisan hitam di bawahmu.

Dalam hati kuberteriak 'bagaimana ini?', secepat kedua tanganku mencoba menarikmu, memegangmu erat. Saat kau berdiri kembali di atas kedua kakimu, perasaan lega menderaku, mengusir segala kekuatiran yang sempat hinggap dalamku.

*is told by a friend, inspired by morning dream, with some add-ups*
*photo's taken from here*
Flap more...

Friday, January 23, 2009

Furious

Kemarahan demi kemarahan silih berganti memenuhi otakku. Marah karena ketidakbecusan. Marah karena ketidakadilan. Marah karena ketidak-konsisten-an. Marah ketika aku hanya bisa mengangguk dan tertawa terpaksa saat dia tertawa, seakan semua itu lucu.

Apa pun yang aku katakan tak pernah bisa mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Sebesar apa pun aku berjuang, aku kalah karena otoritas. Wewenang yang tidak pada tempatnya, gembor kekuasaan yang semena-mena. Entah mengapa, kepalsuan yang sungguh kentara, tertutup oleh paradigma kekuatan. Tak berhenti aku berdecak, bukan kagum, namun getir.

Aku tertunduk, pasrah ketika kekuasaan berbicara. Aku tak punya kekuatan selain keberanian dan keyakinan pada apa yang kuyakini benar adanya. Namun bergerak pun aku tak sanggup, karena tangan dan kakiku terikat pada pancang pinalti.

Tapi aku yakin, suatu saat nanti, saat ikatan ini terlepas, keberanianku akan berbicara.

Ini adalah apa yang aku tulis sebelum pukul 11.27 pagi ini. Namun sekarang aku menyadari bahwa kekuatanNya lebih dari apa pun.
Flap more...

Wednesday, January 14, 2009

Morning Zephyr

Aku bangun kedinginan karena hujan pagi ini. Tak lama, sakit kepala yang kemarin menyerangku, mulai mendera kembali. Tak bersemangat aku bangun bersiap-siap. Kuraih ponselku dan kukirim pesan singkat ke nomormu.

Masih dengan kondisi kepala yang tak bersahabat, aku melajukan mobilku di tengah hujan pagi ini. Pesanku terbalas dan aku tahu kau pun sedang dalam perjalanan. Otakku berputar sejenak dan aku memperkirakan kita dapat berpapasan. Sambil berkendara, sesekali kutolehkan kepalaku ke sebelah kanan, mencari-carimu.

Harapanku hampir sirna ketika aku telah mencapai ujung jalan dan aku harus berputar arah. Kutolehkan kepalaku untuk yang terakhir kali dan di sanalah kamu. Bergegas kutulis pesan singkat, namun pesanmu telah masuk lebih dulu.

"Kamu baru masuk tol ya?" 08.48 am.

Aku tersenyum gila. Lucu. Aneh. Tapi pertemuan singkat, sepersekian detik, itu pun tanpa saling melihat karena tertutup gelapnya kaca mobil, terpisah oleh pagar jalan tol dan jalanan lebih dari 10 meter, mampu menjentikkan semangat di bahuku.
Flap more...

Monday, January 5, 2009

Love Does Hurt, But...

"Kamu sayang ma orang lain aja yah.... Aku takut nyakitin kamu nantinya."

Aku pernah mendengar seorang bijak berkata "ketika kamu mencintai seseorang, secara otomatis kamu juga telah memberikan hak padanya untuk menyakitimu". Aku sungguh mengerti akan hal ini. Bahkan ketika ku memutuskan untuk mencintaimu, yah, bagiku cinta adalah keputusan, bukan semata perasaan yang mengebu-gebu, aku tahu suatu saat nanti, entah kapan dan di mana, aku akan sakit oleh karenamu.

Tapi apakah aku berhenti mencintaimu karenanya? Sekali pun tidak. Di sini aku, yang mencoba mengerti sepenuhnya akan arti cinta, tak akan mundur dari cinta yang kumiliki. Tidak ada seorang pun yang bisa berjanji untuk tidak menyakiti orang lain.

Biarlah kurasakan cinta ini, betapa pun pedihnya nanti. Namun setidaknya aku pernah merasakan cinta. Sungguh, aku hanya ingin kau merasakan berjuta bahagia. Dan jika bahagiamu bukan bersamaku, aku akan merelakanmu. Tapi jangan pernah minta aku untuk berhenti mencintaimu.
Flap more...

Wednesday, December 31, 2008

Final Day of 2008

Finally, this is the final day of 2008. And yet I haven't written my resolution(s). No idea. And this is always who I am. Be with the flow. Just let me end this year with twelve short memoirs that i've been through.

I barely breathed when it went down suddenly. I was in there, an elevator, which was not working properly. It was going up, but when it reached 5th floor, it sumhow fell down to second floor. When i was out, i realized how short my life could be. It was January.

February, I remember when i cursed life. I also remembered when i was being grateful for life i had. But either curse or being grateful, it never changed anything, it only made the journey of life tasted different. Well, i'd like to taste it with love, for it had changed the world. Meanwhile, I was still searching, for something I didn't even know.

I was standing at KL Tower on March 22, looking the scenery down below. I was amazed for life I had, for God had been so good to me. There I was, on my 25, giving my self a birthday present, a tour abroad. It was my first though, but at least I spent on my own.

I stood up waiting when i saw a black-blue SUV stopped in front of me. I saw you stepped down and looked at me. For couple seconds, we just stood there, starring at each other, having no idea what to do, just admiring one another. Was i could stop that moment, i'd surely do. That was the time, when i fell in love. Fool April I guessed.

I was so tired searching who I really was. I sumhow didn't know what I want for myself and when i knew, it was hard to bear. I wished I were an angel, at least i had wings to take me anywhere i want. Yeah it was May.

In a chilly weather of June, i felt happiness i never felt before. But, I couldn't stop wonder, was it really what I wanted?

I didn't wanna be squeezed. I wanted to be respected, as I respected you. I wanted you walked with me, not in front of me nor behind me. But indeed, i forgave you for every hard clutch you made on me during July.

Not much happened in August. I grew up, facing the reality that sumtimes shut me up but also put joke on my stomach. Not much, not much, or did i felt way too much?

It was a crossroad i had to take. I stood still for a quite long then i walked down the other path. It was hard for me, so was it for you. But the journey had led us to where we are now. I didn't regret what i had chosen, but still this heart wouldn't let you go. It was the end of September.

I found you in the beginning of October. You, who had lost for a while. Your presence came with thousand happiness. But then i understood, that this path didn't belong to us, no matter how hard I tried.

November. It was always you.

It was Christmas eve, it was near the end, but I was still who I was on the first day of this year. I had barely changed. Then it came to one conclusion, I had to be more grateful for what I was. There wasn't you there with me, but I knew, you were for me. There was no big wish I'd reached, but there were so many little dreams I conquered.
Flap more...

Sunday, December 21, 2008

One Second To Go

Aku menekan gas dalam-dalam malam itu sesaat setelah lampu jalan berubah warna. Kulirik arlojiku, 23.55. Lima menit lagi pikirku. Aku melintas di depan Bundaran HI. Berbelok di sebelah Grand Indonesia, kutambah kecepatan mobilku. Aku hampir melewati perempatan di depan saat kembali kulirik arlojiku. Dan....

Ciiit.... Sebuah mobil Suzuki Escudo putih muncul di sebelah kananku. Beberapa inchi lagi, moncongnya sudah mengenai pintu kanan depan mobilku. Kubanting kemudiku. Mobilku berdansa sesaat, dan langsung kembali melaju di kesepian jalanan.

Berdegup. Berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Ku bergumam "Terima kasih Tuhan!" Aku meraih ponselku dan meneleponmu. Entah kenapa, aku merasa perlu mendengar suaramu. Mungkin ingin memastikan aku masih di sini, di dunia ini.
Flap more...

Monday, December 15, 2008

Sea Side Dusk

Sesekali air laut menerpa kakiku yang hampir setengahnya terkubur pasir pantai. Debur ombak dan teriak riang orang-orang di sekelilingku tak mampu mengusir sepi yang kurasa. Aku terduduk diam, memandang cakrawala di kejauhan.

Perlahan kulihat mentari yang bersinar temaram mendekati horizon di ujung samudera. Indah, sungguh indah. Kicau burung yang riuh rendah menambah alunan harmoni merdu alam senja ini. Namun tetap kurasakan sepi tak bernada.


Sengaja kutinggalkan ponsel di penginapan, karena kutahu, jika kubawa ia serta, aku tak akan kuasa menahan keinginanku untuk bergumul dengannya, menulis beribu deskripsi tentang alam yang sekarang kusaksikan, dan mengirimkannya padamu, hanya untuk menghilangkan sedikit sepi di hati.

Aku menyadari, cepat atau lambat, aku harus menghadapi kesepian ini. Tanpamu di sini. Kini, aku hanya bisa bersyukur, kita bisa menyaksikan matahari tenggelam bersama sama, walau tanpa saling menggenggam tangan.
Flap more...

Wednesday, November 26, 2008

A Voice Over There

Aku gelisah. Kuputar volume speaker komputerku keras-keras, berusaha mengalahkan derasnya bunyi hujan di luar rumah. Aku duduk, berdiri, mondar mandir, begitu terus tak henti-henti.

Ponsel di tanganku kugenggam erat. Jelas aku menunggu ia berbunyi. Namun aku tak tahu apa yang kuharapkan muncul di layarnya.

Guntur bergemuruh, ketika kumulai lelah dalam kegelisahan. Kukecilkan volume speaker, dan kurebahkan tubuhku di atas ranjang empuk yang menemani tidurku setiap malam. Ponsel itu belum juga terlepas dari gengamanku. Aku menunggu, dan menunggu.

Mataku terpejam namun tak sedikit pun rasa kantuk bertengger. Detik demi detik berlalu terasa seperti siksaan. Kapankah penantian ini berakhir, tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Aku tak berani menatap layarnya. 1 detik, 2 detik, kubiarkan getarnya mengalir dalam setiap pembuluh darahku. Kunikmati setiap sensasi di tanganku. Aneh? Mungkin.

Menyipitkan mata, kubaca nama yang terpampang di layar ponselku. Bukan, bukan sebuah nama yang kuharap muncul di sana. Tertunduk lesu, kujawab perlahan, 'ya?'

Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embuh pagi sampaikan padanya
Ingin kudekap erat waktu dingin membelenggunya


Hening setelahnya. Aku tak percaya yang kudengar. Sebuah melodi, sederhana tanpa iringan orkestra. Namun gelisahku hilang karenanya. Karena suara di seberang sana.
Flap more...

Monday, November 24, 2008

Magnificent Memoirs

Yo! Yo! Yo!!! Wuzzup, man? *gaya pisan ampe jatuh kejengkang.

Lately I found out that I'd lost my 'fortitude' that makes me eager to write. But today, the good news is coming, I got an idea. I like to write. So I will try to write what I see, what I feel, what I taste into short stories, and I will tag them as Magnificent Memoirs.

These kind of postings may be vary, since they will not only be what happen to me, but also to others. The best part is I will never let you know whose stories they are, giving you the oportunity to think objectively when you read them. You may also try to harmonize yourself into those stories. I promise you they will be as short as possible.

Chosen words are definitely the most important thing for posting under this label. If you like playing with words and their magnificence, you may enjoy them as I do.

There's always first step in a long journey. So, I'm proudly giving you One Rainy Day.

I hope this will not only be my wishful thinking. So, relax, grab a cup of coffe, and enjoy!!!
Flap more...

One Rainy Day

Mataku bergerak mengikuti laju wiper mobilku. Mulutku terkatup, diam, tanpa kata. Yang terdengar hanyalah alunan lagu D'Masiv. Tetes hujan sesekali menambah denting manis seakan berirama.

Kalimatku bergulir pelan 'Kamu tak apa kan?'. Kau hanya menggeleng, lagi-lagi tanpa kata, diam seribu bahasa. Mata kita bertemu dan kau mengernyit, seakan-akan aku ini aneh.

Kugenggam tanganmu seraya mengucap 'aku di sini untukmu'. Dua puluh tiga menit berlalu dalam kesunyian.

Aku melihatnya di ujung jalan. Aku mengerem laju mobilku dan berhenti tepat di depannya. Saat dia membuka pintu, samar kulihat senyummu merekah perlahan.

Keheningan tak lagi mengisi atmosfer mobilku. Kau tertawa, sesekali melontar cerita. Hatiku tergelak, bahagia karena tawa dan senyummu. Kulepas gengamanku tanpa kau menyadarinya.

Dalam bahagiaku, terbersit sedikit tanya 'Tak bisakah ku bahagiakanmu? Apakah hanya hadirnya yang bisa buatmu tersenyum?'
Flap more...